Disdikbud Kukar Kebut Penyusunan Perbup Kawasan Budaya Tenggarong
Kawasan Budaya di Kutai Kartanegara
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menargetkan penyusunan Peraturan Bupati (Perbup) tentang Kawasan Budaya di pusat Kota Tenggarong rampung pada tahun ini.
Regulasi ini akan menjadi payung hukum penting
dalam penataan dan pengelolaan ruang publik berbasis kebudayaan yang
mengedepankan identitas lokal dan potensi pariwisata.
Kepala Disdikbud Kukar, Thauhid Afrilian Noor,
menyampaikan bahwa penyusunan Perbup kini berada pada tahap harmonisasi lintas
organisasi perangkat daerah (OPD), sembari menunggu hasil kajian tambahan yang
mendukung implementasinya di lapangan.
“Kita targetkan selesai tahun ini. Draf
Perbupnya sudah dibuat. Tapi, memang perlu proses harmonisasi antar OPD,
termasuk kajian tambahan,” ujarnya, pada Senin (23/6/2025).
Kawasan Budaya yang dirancang akan membentang
luas dari depan Kedaton Kutai Kartanegara hingga Monumen Pancasila, menyusuri
tepian Sungai Mahakam ke arah eks Tanjong dan Planetarium.
Rencana pengembangan juga mencakup jalur ke
Gunung Pendidik di sisi sungai, dengan tetap mempertahankan akses darat untuk
publik.
“Wilayah ini sudah ditetapkan sebagai Kawasan
Budaya sejak awal 2024, ditandai dengan prasasti yang ditandatangani Bupati dan
Sultan Kutai pada peringatan Hari Jadi Kesultanan. Sekarang kami sedang bahas
Perbupnya,” jelasnya.
Melalui Perbup ini, pemerintah akan memiliki
landasan hukum untuk mengatur berbagai aspek, mulai dari pengelolaan parkir,
penataan pedagang kaki lima, hingga pelaksanaan agenda seni dan budaya secara
rutin di kawasan tersebut.
“Kalau orang datang ke Tenggarong, mereka tahu
bahwa ini Kawasan Budaya. Bukan sekadar tempat kumpul, tapi pusat budaya hidup.
Pentasnya, aktivitas seninya, semua harus hidup. Tidak boleh kosong,” tegasnya.
Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura
juga telah memberi dukungan penuh terhadap inisiatif ini, termasuk membuka
Kedaton secara berkala sebagai ruang pelestarian budaya.
Kegiatan seni tradisional seperti Tingkilan
dan Jepen diharapkan rutin digelar untuk menghidupkan kembali identitas budaya
daerah.
Thauhid menambahkan, keberadaan Kawasan Budaya
akan memperkuat citra Kukar sebagai daerah yang menjunjung tinggi warisan
budaya leluhur.
Ia pun mengajak seluruh masyarakat untuk turut
menjaga kawasan ini agar tetap bersih, tertib, dan mencerminkan nilai-nilai
kebudayaan.
“Ini ikon baru Etam. Kalau malam Minggu, ramai
di sini. Ini bukan hanya ruang publik, tapi wajah budaya kita,” tutupnya.(adv)